Tuesday, 3 December 2013






أويس  القرني


UWAIS IBNU AMIR ALQARANI


Ikhwatul Islam - Pemuda bernama Uwais Al-Qarnie. Ia tinggal dinegeri Yaman. Uwais adalah seorang yang terkenal fakir, hidupnya sangat miskin. Uwais Al-Qarnie adalah seorang anak yatim. Bapaknya sudah lama meninggal dunia. Ia hidup bersama ibunya yang telah tua lagi lumpuh. Bahkan, mata ibunya telah buta. Kecuali ibunya, Uwais tidak lagi mempunyai keluarga sama sekali.


 
Dalam kehidupannya sehari-hari, Uwais Al-Qarnie bekerja mencari nafkah dengan menggembala kambing-kambing orang pada waktu siang hari. Upah yang diterimanya cukup buat nafkahnya dengan ibunya. Bila ada kelebihan, terkadang ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti dia dan ibunya. Demikianlah pekerjaan Uwais Al-Qarnie setiap hari.

 
Uwais Al-Qarnie terkenal sebagai seorang anak yang taat kepada ibunya dan juga taat beribadah. Uwais Al-Qarnie seringkali melakukan puasa. Bila malam tiba, dia selalu berdoa, memohon petunjuk kepada Allah. Alangkah sedihnya hati Uwais Al-Qarnie setiap melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka telah bertemu dengan Nabi Muhammad SAW, sedang ia sendiri belum pernah berjumpa dengan Rasulullah SAW. Berita tentang Perang Uhud yang menyebabkan Nabi Muhammad SAW mendapat cedera dan gigi Baginda SAW patah kerana dilempari batu oleh musuh-musuhnya, telah juga didengar oleh Uwais Al-Qarnie. Segera Uwais mengetuk giginya dengan batu hingga patah kerana merasa amat malu dirinya yang tidak berkesempatan berperang sedangkan Baginda Rasulullah SAW sendiri telah patah gigi Baginda. Hal ini dilakukannya sebagai ungkapan rasa cintanya kepada Nabi Muhammmad SAW, sekalipun ia belum pernah bertemu dengan Baginda Nabi SAW. Hari demi hari berlalu, dan kerinduan Uwais untuk menemui Nabi SAW semakin mendalam dan begitu kuat sekali rindunya. Hatinya selalu bertanya-tanya, bilakah ia dapat bertemu Nabi Muhammad SAW dan memandang wajah Baginda SAW dari dekat? Ia rindu mendengar suara Nabi SAW, kerinduan kerana iman.
 
Tapi bukankah ia mempunyai seorang ibu yang telah tua renta dan buta, lagi pula lumpuh? Bagaimana mungkin ia tega meninggalkannya dalam keadaan yang demikian? Hatinya selalu gelisah. Siang dan malam pikirannya diliputi perasaan rindu memandang wajah Nabi Muhammad SAW.

 
Akhirnya, kerinduan kepada Nabi SAW yang selama ini dipendamnya tak dapat ditahannya lagi. Pada suatu hari ia datang mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinya dan mohon izin dan restu ibunya agar ia diperkenankan pergi menemui Rasulullah SAW di Madinah. Ibu Uwais Al-Qarnie walaupun telah uzur, merasa terharu dengan ketika mendengar permohonan anaknya. Ia memaklumi perasaan Uwais Al-Qarnie seraya berkata, “pergilah wahai Uwais, anakku! Temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa dengan Nabi, segeralah engkau kembali pulang.”

 
Betapa gembiranya hati Uwais Al-Qarnie mendengar ucapan ibunya itu. Segera ia berkemas untuk berangkat. Namun, ia tak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkannya, serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi. Sesudah bersedia dan bersiap untuk berangkat, beliau mencium ibunya, berangkatlah Uwais Al-Qarnie menuju Madinah.

Uwais Ai-Qarnie Pergi ke Madinah

 
Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya Uwais Al-Qarnie sampai juga dikota Madinah al Munawwarah. Segera ia mencari rumah Nabi Muhammad SAW. Setelah ia menemukan rumah Nabi, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam, keluarlah seseorang seraya membalas salamnya. Segera saja Uwais Al-Qarnie menanyakan Nabi saw yang ingin dijumpainya. Namun ternyata Nabi tidak berada dirumahnya, Baginda SAW sedang berada di medan pertempuran. Uwais Al-Qarnie hanya dapat bertemu dengan Ummul Mukminin Siti Aa-isyah R.anha, isteri Baginda Nabi SAW. Betapa kecewanya hati Uwais. Dari jauh ia datang untuk berjumpa langsung dengan Nabi SAW, tetapi Nabi SAW tidak dapat dijumpainya.
 
Dalam hati Uwais Al-Qarnie bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi saw dari medan perang. Tapi bilakah Nabi pulang? Sedangkan masih terngiang di telinganya pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman, “engkau harus lekas pulang”.

 
Akhirnya, kerana ketaatannya kepada ibunya, pesan ibunya mengalahkan suara hati dan kemahuannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi SAW. Kerana hal itu tidak mungkin, Uwais Al-Qarni dengan terpaksa pamit kepada Siti Aisyah ra untuk segera pulang kembali ke Yaman, dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi SAW. Setelah itu, Uwais Al-Qarni pun segera berangkat mengayunkan langkahnya dengan perasaan amat haru.
 
Peperangan telah usai dan Nabi SAW pulang menuju Madinah. Sesampainya di rumah, Nabi SAW menanyakan kepada Siti Aa-isyah R.anha. tentang orang yang mencarinya. Nabi mengatakan bahwa Uwais Al-Qarnie anak yang taat kepada ibunya, adalah penghuni langit. Mendengar perkataan Nabi SAW, Siti Aa-isyah ra dan para sahabat terpegun. Menurut keterangan Siti Aa-isyah ra, memang benar ada yang mencari Nabi saw dan segera pulang kembali ke Yaman, kerana ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama. Nabi Muhammad SAW melanjutkan keterangannya tentang Uwais Al-Qarnie, yang dikenali oleh penghuni langit itu, kepada para sahabatnya., “Kalau sekelian kamu ingin berjumpa dengan dia, perhatikanlah ia mempunyai tanda putih ditengah talapak tangannya.”

 Sesudah itu Nabi SAW memandang kepada Ali ra dan Umar ra seraya berkata, “suatu ketika apabila kedua kamu bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi.”
 
Waktu terus berganti, dan Nabi SAW kemudian wafat. Kekhalifahan Abu Bakar pun telah digantikan pula oleh Umar bin Khattab. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi SAW tentang Uwais Al-Qarnie, penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kembali sabda Nabi saw itu kepada sahabat Ali bin Abi Thalib ra. Sejak saat itu setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, Khalifah Umar ra dan Ali ra selalu menanyakan tentang Uwais Al Qarnie, si fakir yang tak punya apa-apa itu, yang kerjanya hanya menggembalakan kambing dan unta setiap hari? Mengapa khalifah Umar ra dan sahabat Nabi, Ali ra, selalu menanyakan dia?
 
Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka. Suatu ketika, Uwais Al-Qarnie turut bersama mereka. Rombongan kafilah itu pun tiba di kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang baru datang dari Yaman, segera khalifah Umar ra dan Ali ra mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais Al-Qarnie turut bersama mereka. Rombongan kafilah itu mengatakan bahwa Uwais Al-Qarnie ada bersama mereka, dia sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, khalifah Umar ra dan Ali ra segera pergi menjumpai Uwais Al-Qarnie.
 Sesampainya di khemah tempat Uwais berada, khalifah Umar ra dan Ali ra memberi salam. Tapi rupanya Uwais sedang shalat. Setelah mengakhiri shalatnya dengan salam, Uwais menjawab salam khalifah Umar ra dan Ali ra sambil mendekati kedua sahabat Nabi saw ini dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar ra dengan segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada di telapak tangan Uwais, seperti yang pernah dikatakan oleh Nabi saw. Memang benar! Tampaklah tanda putih di telapak tangan Uwais Al-Qarnie.

 Wajah Uwais Al-Qarni tampak bercahaya. Benarlah seperti sabda Nabi saw bahwa dia itu adalah penghuni langit. Khalifah Umar ra dan Ali ra menanyakan namanya, dan dijawab, “Abdullah.” Mendengar jawaban Uwais, mereka tertawa dan mengatakan, “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya?” Uwais kemudian berkata, “Nama saya Uwais Al-Qarnie”.
 
Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais Al-Qarnie telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali ra memohon agar Uwais membacakan do'a dan istighfar untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada Khalifah, “saya lah yang harus meminta do'a pada yang ,mulia tuan berdua.”
 
Mendengar perkataan Uwais, khalifah berkata, “Kami datang kesini untuk mohon doa dan istighfar dari anda.” Seperti yang dikatakan Rasulullah sebelum wafatnya. Kerana desakan kedua sahabat ini, Uwais Al-Qarnie akhirnya mengangkat tangan, berdoa dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar ra berjanji untuk menyumbangkan wang negara dari Baitul Mal kepada Uwais untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menampik dengan berkata, “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.”

Fenomena Ketika Uwais Al-Qarni Wafat

 Beberapa tahun kemudian, Uwais Al-Qarnie berpulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan, tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana pun sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburannya, disana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya.

 Meninggalnya Uwais Al-Qarnie telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat menghairankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak kenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais Al-Qarnie adalah seorang fakir yang tidak dihiraukan orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, disitu telah ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu.
 Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya, “siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais Al-Qarnie? bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir, yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya sehari-hari hanyalah sebagai penggembala kambing dan unta? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang diturunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamanmu.”
Berita meninggalnya Uwais Al-Qarnie dan keanehan-keanehan yang terjadi ketika wafatnya telah tersebar ke mana-mana. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya, siapa sebenarnya Uwais Al-Qarnie. Selama ini tidak ada orang yang mengetahui siapa sebenarnya Uwais Al-Qarnie disebabkan permintaan Uwais Al-Qarnie sendiri kepada Khalifah Umar ra dan Ali ra, agar merahsiakan tentang dia. Barulah di hari wafatnya mereka mendengar sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi saw, bahwa Uwais Al-Qarnie adalah penghuni langit. Subhanallah

 Keluhan Baginda Besar Nabi SAW,
 Sesungguhnya aku merasakan nafas ar-Rahman, nafas dari Yang Maha Pengasih, mengalir kepadaku dari Yaman!” Demikian sabda Nabi SAW tentang diri Uwais, yang kemudian dalam tradisi tasawuf menjadi contoh bagi mereka yang memasuki tasawuf tanpa dituntun oleh sang guru yang hidup. Para sufi yang mengaku dirinya telah menempuh jalan tanpa pembai’atan formal kemudian disebut dengan istilah Uwaisi. Mereka ini dibimbing langsung oleh Allah di jalan tasawuf, atau telah ditasbihkan oleh wali nabi yang misterius, Khidhir ‘alaihis Salaam. Uwais yang bernama lengkap Uwais bin Amir al-Qarani berasal dari Qaran, sebuah desa terpencil . Tidak diketahui bila beliau dilahirkan. Ia dilahirkan oleh keluarga yang taat beribadah. Ia tidak pernah mengenyam pendidikan kecuali dari kedua orang tuanya yang sangat ditaatinya.
 
Doa dan Dzikir Satu hal yang perlu digarisbawahi dari diri Uwais al-Qarnie, kemudian menjadi landasan dalam thariqat-thariqat sufi, selain baktinya yang luar biasa terhadap kedua orang tuanya dan sikap zuhudnya, adalah doa dan zikirnya. Uwais tidak pernah berdoa khusus untuk seseorang, tetapi selalu berdoa untuk seluruh umat kaum muslim. Uwais juga tidak pernah lengah dalam berzikir meskipun sedang sibuk bekerja, mengawasi dan menggiring ternak-ternakannya. Doa dan dzikir bagaikan dua sisi mata wang yang tidak dapat dipisahkan. Hakikatnya adalah satu. Sebab, jelas doa adalah salah satu bentuk dari zikir, dan zikir berterusan mengingati Allah hingga ia tidak sempat bermohon (sesuatu) kepada-Allah, maka Allah akan mengaruniakan kepadanya sesuatu yang terbaik dari yang diminta orang yang berdoa kepadaNya”. Uwais selalu berdoa untuk seluruh muslimin. Doa untuk kaum muslim adalah salah satu bentuk perwujudan dari kepedulian terhadap “urusan kaum muslim”. Rasulullah SAW. Pernah memperingatkan dengan tegas: Siapa yang tidap peduli dengan urusan kaum muslim, maka ia tidak termasuk umatku.” Dalam hal ini, Rasulullah SAW menyatakan bahawa “permohonan yang paling cepat dikabulkan adalah doa seseorang untuk saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan dan mendahulukan doa untuk selain dirinya.” Dan Uwais lebih memilih untuk mendoakan seluruh saudaranya seiman. Suatu ketika Hasan bin Ali ra. terbangun tengah malam dan melihat ibunya, Fatimah az-Zahra R’anha, sedang khusyuk berdoa. Hasan yang penasaran ingin tahu apa yang diminta ibunya dalam doanya berusaha untuk menguping-dengar. Namun Hasan agak sedikit kecewa, kerana dari awal hingga akhir doanya, ibunya, hanya meminta pengampunan dan kebahagian hidup untuk seluruh kaum muslimin di dunia dan di akhirat kelak. Selesai berdoa, segera Hasan bertanya kepada ibunya perihal doanya yang sama sekali tidak menyisakan doanya untuk dirinya sendiri. Ibunya tersenyum, lalu menjawab bahawa “apapun yang kita panjatkan untuk kebahagiaan hidup kaum muslim, hakikatnya, permohonan itu akan kembali kepada kita.” Sebab para malaikat yang menyaksikan doa tersebut akan berkata “Semoga Allah mengabulkanmu dua kali ganda.” Dari prinsip tersebut, para sufi kemudian menarik suatu prinsip yang lebih umum yang padanya bertumpu seluruh rahsia kebahagiaan. Apa yang kita cari dalam kehidupan ini, harus kita berikan kepada orang lain. Jika kebajikan yang kita cari, berikanlah; jika kebaikan, berikanlah; jika pelayanan, berikanlah. Bagi para sufi, dunia adalah kubah, dan perilaku seseorang adalah gema dari pelaku yang lain. Secuil apapun kebaikan yang kita lakukan, ia akan kembali. Jika bukan dari seseorang, ia akan datang dari orang lain. Itulah gemanya. Kita tidak mengetahui dari mana sisi kebaikan itu akan datang, tetapi ia akan datang beratus kali lipat dibanding yang kita berikan. Demikianlah, berdoa untuk kaum muslim akan bergema di dalam diri yang tentu saja akan berdampak besar dan positif dalam membangun dan meningkatkan kualiti kehidupan spiritual seseorang. Paling tidak, doa ini akan memupus ego di dalam diri yang merupakan musuh terbesar, juga sekaligus akan melahirkan dan menanamkan komitmen dalam diri “rasa Cinta”dan “prasangka baik”terhadap mereka, yang merupakan pilar lain dari ajaran sufi, sebagai manifestasi cinta dan pengabdian kepada Allah swt. Uwais tidak pernah lengah untuk berzikir, mengingat dan menyebut-nyebut nama Allah meskipun ia sedang sibuk mengurus binatang ternaknya. Zikir dalam pengertiannya, yang umum mencakup ucapan segala macam ketaatan kepada Allah swt.
 
Namun yang dilakukan Uwais disini adalah berzikir dengan menyebut nama-nama Allah dan mengingat Allah, juga termasuk sifat-sifat Allah.
 
Ibn Qayyim al-Jauzi ketika memaparkan berbagai macam faedah zikir dalam kitabnya “al-wabil ash-shayyab min al-kalim at-thayyib” menyebutkan bahawa “yang paling utama pada setiap orang yang beramal adalah yang paling banyak berzikir kepada Allah SWT. Ahli shaum(puasa) yang paling utama adalah yang paling banyak zikirnya; pemberi sedekah yang paling baik adalah yang paling banyak zikirnya; para hujjaj(haji) yang paling utama adalah yang paling banyak berzikir kepada Allah swt; dan seterusnya, yang mencakup segala aktiviti dan keadaan.”
 
AsShohibus Samahah AsSyed Muhammad Alawi alHusaini dalam “al-Qawl al-Mu’tamad,” menyebutkan bahwa mulianya suatu nama adalah kerana kemuliaan pemilik nama itu, sebab nama itu mengandung kesan si pemiliknya dalam lipat tersembunyi esensi rahsianya dan maknanya. Berzikir dan mengulang-ulang Asma Allah, Sang Pemilik kemuliaan, dengan demikian, tak diragukan lagi akan memberikan sugesti, efek, dan pengaruh yang sangat besar.
 Hujjatul Islam Al-Ghazali menyatakan bahawa yang diperoleh seorang hamba dari nama Allah adalah ta’alluh (penuhanan), yang bererti bahawa hati dan niatnya tenggelam dalam ketuhanan Allahu Azzawajjal, sehingga yang dilihat-Nya hanyalah Dia.

Dan hal ini, dalam pandangan Ibnul ‘Arabi, bererti sang hamba tersebut menyerap nama Allah, yang kemudian merubahnya dengan ontologis. Demikianlah, setiap kali kita menyerap Asma Allah membawa zikir kepada-Nya, esensi kemanusiaan kita berubah. Kita mengalami tranformasi. Yang pada akhirnya akan membuahkan akhlak al-karimah yang merupakan tujuan pengutusan Baginda Besar Rasulullah Muhammad SAW. Dilihat dari sudut pandangan psikologis sufistik, pertama-tama zikir akan memberi kesan pada ruh seseorang, membentuknya membangun berbagai kualiti kebaikan, dan kekuatan inspirasi yang disugestikan oleh nama-nama itu.

 Dan mekanisma batiniah seseorang menjadi semakin hidup dari pengulangan zikir itu, yang kemudian mekanisma ini berkembang pada pengulangan nama-nama secara otomatis. Jadi jika seseorang telah mendawamkan zikirnya selama satu jam, misalnya, maka sepanjang siang dan malam zikir tersebut akan terus berlanjut terulang, kerana jiwanya mengulangi terus menerus. Pengulangan zikir ini, juga akan terefleksi pada ruh semesta, dan mekanisma universal kemudian mengulanginya secara otomatis. Dengan kata lain, apa yang dizikirkan manusia dengan menyebutnya berulang-ulang. Tuhan kemudian mulai mengulanginya, hingga termaterialisasi dan menjadi suatu realiti di semua tingkat eksistensi yang berkedudukan sebagai elemen keruhanian diri insan antaranya Hati, Nafsu, Syahwat, Hawa’ dan akal.
  والله ورسوله أعلم
 
Catitan: Pemilik Blog: Ust Hassan Abdul Latiff telah memilih nama Tabi’in yang paling mulia ini untuk dijadikan nama blog beliau, dan beliau telah menamakan cucunda beliau yang sulung dari anakanda beliau yang sulung juga dengan nama ini iaitu: UWAIS ALQARNIE BIN ALMAHDI ASSIDDIQQIE


 

 

 




AS-SUNNAH
 
As-Sunnah merupakan sumber hukum Islam yang kedua setelah Al-Qur’an. As-Sunnah dengan demikian memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam. Oleh kerana itu, sudah seharusnya kita senantiasa mempelajari As-Sunnah, sehingga boleh memahaminya dengan baik. Diantara perkara mendasar yang boleh kita lakukan dalam usaha memahami As-Sunnah adalah memahami berbagai peristilahannya yang penting, yang terangkum dalam disiplin ilmu Mushthalah Hadits. Berikut ini beberapa istilah yang penting.

 
Pertama : As-Sunnah

Definisi : As-Sunnah adalah segala sesuatu yang berasal / bersumber dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, baik berupa perkataan (qaul), perbuatan (fi’il), persetujuan (taqrir), maupun sifat akhlaq (washf), sejak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diangkat sebagai nabi dan rasul sampai Baginda SAW wafat.

Dengan demikian, maka As-Sunnah terbagi menjadi 4 macam yaitu :

 1.      As-Sunnah al-Qauliyah (perkataan / sabda)

2.      As-Sunnah al-Fi’liyah (perbuatan / tindakan)

3.      As-Sunnah at-Taqririyah (persetujuan / pembenaran)

4.      As-Sunnah al-Washfiyah (sifat akhlaq)

 
As-Sunnah juga dikenal dan dimaknai sebagai lawan atau kebalikan dari Al-Bid’ah.

As-Sunnah juga diertikan sama dengan istilah Al-Mustahab atau Al-Mandub, iaitu suatu hukum syar’i (fiqih) yang berada antara hukum wajib dan mubah.

 
Kedua : Al-Hadits

Al-Hadits sama dan semakna dengan istilah As-Sunnah.

Al-Hadits juga didefinisikan sebagai berikut : segala sesuatu yang berasal atau bersumber atau dinisbatkan kepada Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam, berupa perkataan atau sabdaan, perbuatan atau tindakan, persetujuan atau pembenaran, dan sifat baik akhlaq maupun fitrah, dan baik setelah Baginda menjadi nabi dan rasul atau sebelumnya.

Dengan definisi khusus tersebut bererti makna hadits lebih luas daripada makna dan cakupan As-Sunnah, kerana termasuk meliputi periode sebelum Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam menjadi nabi dan rasul dan segala sesuatu yang terkait dengan diri Baginda, meskipun tidak terkait dengan masalah tasyri’ (hukum syar’i) sekalipun.

 
Ketiga : Al-Hadits Al-Qudsi

Definisi : Al-Hadits Al-Qudsi ialah salah satu jenis hadits Nabi shallallahu ’alaihi wasallam yang dalam periwayatannya tidak hanya berhenti pada Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam, tapi dinisbatkan sampai kepada Allah, dengan secara eksplisit disertai ungkapan : ’Allah Ta’ala berfirman’ atau ’Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam meriwayatkan dari Allah Ta’ala atau dari Rabb-nya’ ...

Bezanya dengan hadits lain non qudsi : sama-sama hadits tapi dalam hadits-hadits lain periwayatan dan penisbatannya berhenti hanya sampai kepada Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam, sedangkan dalam hadits qudsi sampai kepada Allah Ta’ala.

Bezanya dengan Al-Qur’an :

 
1.      Keduanya sama-sama berasal dan bersumber dari Allah Ta’ala, tapi hadits qudsi tetap merupakan salah satu jenis hadits Nabi shallallahu ’alaihi wasallam, dan bukan termasuk Al-Qur’an.

2.      Al-Qur’an, baik isi atau makna maupun lafazh, teks atau redaksinya murni dari firman (kalam) Allah Ta’ala, yang disampaikan melalui Jibril ’alaihis salam. Dan tugas serta peranan Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam hanyalah menerima dan menyampaikannya apa adanya tanpa pengurangan maupun penambahan sehuruf pun! Tentu saja disamping tugas menjelaskan dan menafsirkan. Sedangkan Hadits Qudsi , isi atau maknanya dari Allah tetapi lafazh, teks atau redaksinya dari Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam. Atau makna dan redaksinya berasal dari Allah namun Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam diperbolehkan untuk menyampaikan dan meriwayatkan ’bil-ma’na’ (dengan gubahan tanpa mengubah isi dan makna). Atau sejak awal telah disampaikan kepada Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam atau telah diketahui oleh Baginda SAW - dengan cara tertentu - bahwa yang Baginda SAW terima (Hadits Qudsi) itu bukan termasuk Al-Qur’an.

3.      Hadits Qudsi ada yang shahih, hasan, dha’if dan bahkan maudhu’, dan tingkat validiti dan kehujjahannya seperti hadits-hadits lain pada umumnya. Sedangkan Al-Qur’an seluruhnya mutawatir dan pasti shahih secara mutlak, tanpa ada sedikitpun keraguan didalamnya.

4.      Hadits Qudsi tidak mengandung muatan kemukjizatan seperti Al-Qur’an.

5.      Secara umum, Hadits Qudsi disikapi dan diperlakukan sebagaimana hadits-hadits lain pada umumnya dan tidak berlaku padanya hukum-hukum khusus yang berlaku pada Al-Qur’an, seperti hukum membacanya, menyentuhnya dan lain-lain.

Keempat : As-Sanad (Sanad Hadits) atau Al-Isnad

As-Sanad atau Al-Isnad ialah silsilah atau rangkaian perawi yang meriwayatkan teks hadits secara sambung menyambung mulai dari perawi terendah / perawi pertama (penghimpun kitab-kitab induk hadits seperti Al-Bukhari, Muslim, Al-Baihaqi dan lain-lain) sampai pada sumber terakhir asal teks hadits tersebut (Allah Ta’ala untuk Hadits Qudsi, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam untuk hadits marfu’, sahabat untuk hadits mauquf, dan seterusnya).

Sanad merupakan salah satu keistimewaan yang hanya dimiliki oleh umat Islam.

Kelima : Al-Matn (Matan Hadits)

Al-Matn ialah lafazh atau nash atau teks atau redaksi hadits itu sendiri, misalnya teks hadits : ”Innamal a’maalu bin niyyat” (HR Muttafaq ’Alaih).

Sanad dan matan biasanya disebut secara bergandingan kerana keduanya saling melengkapi dalam hal penyampaian / periwayatan hadits.

 
Keenam : Ash-Shahabi (Sahabat Nabi shallallahu ’alaihi wasallam)

Definisi : Ash-shahabi ialah seorang muslim yang sempat berjumpa dengan Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam sesudah Baginda SAW diangkat menjadi nabi dan rasul, semasa hidup Baginda SAW, dan wafat dalam keadaan Islam pula.

Dengan demikian, syarat-syarat sahabat adalah :
 
1.      Ia seorang muslim saat berjumpa Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam.

2.      Harus terjadi perjumpaan.

3.      Perjumpaan terjadi setelah kenabian dan bukan sebelumnya.

4.      Perjumpaan terjadi semasa hidup Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bukan sesudah Baginda SAW wafat, seperti dalam mimpi misalnya.

5.      Yang bersangkutan wafat sebagai muslim.

Seluruh sahabat adalah terpercaya dan diterima riwayatnya (Ash-shahabatu kulluhum ’uduul) berdasarkan :

1.      Rekomendasi Al-Qur’an, misalnya dalam QS Al-Baqarah : 143, Ali ’Imran : 110, Al-Anfal : 64, At-Taubah : 100, Al-Fath : 18, dan lain-lain.

2.      Rekomendasi Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam dalam berbagai hadits yang sangat banyak, baik yang secara umum dan global maupun yang secara khusus untuk orang per-orangan diantara para sahabat yang mulia.

3.      Ijma’, kesepakatan dan konsensus seluruh ulama’ Ahlus Sunnah wal Jama’ah sepanjang sejarah Islam sampai sekarang dan sampai Hari Kiamat.

Kitab-kitab tentang sahabat :

1.      Al-Isti’ab fi Ma’rifatil Ash-haab oleh Imam Ibnu ’Abdil Barr (wafat tahun 463 H)

2.      Usdul Ghaabah fi Ma’rifatish Shahaabah oleh Imam Ibnul Atsir (wafat tahun 630 H)

3.      Al-Ishabah fi Tamyiizish Shahaabah oleh Imam Ibnu Hajar (wafat tahun 852 H)

 
Ketujuh : At-Tabi’i (Tabi’in)

Definisi : At-Tabi’i ialah seorang muslim yang sempat berjumpa dengan sahabat Nabi shallallahu ’alaihi wasallam. Ada pendapat kedua yang mendefinisikan At-Tabi’i sebagai : seorang muslim yang menyertai atau berjumpa dengan sahabat dan meriwayatkan darinya. Tapi definisi pertama lebih rajih dan kuat.

Generasi tabi’in adalah generasi terbaik kedua setelah generasi sahabat, dan diatas generasi ketiga yakni generasi Atbaa’ut Taabi’in, berdasarkan :

1.      Rekomendasi Allah Ta’ala dalam QS At-taubah : 100.

2.      Rekomendasi Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam seperti dalam hadits: ”Sebaik-baik generasi adalah generasiku (sahabat), lalu generasi berikutnya (tabi’in), lalu generasi sesudahnya lagi (atbaa’ut taabi’in)” (HR Muttafaq ’Alaih).

3.      Ijma’ ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

 

Wallahul Muwaffiq.



Monday, 2 December 2013




SEBELAS JENIS MANUSIA DI DOA MALAIKAT

PERCAYA kepada malaikat adalah antara rukun iman . Ada malaikat yang ditugaskan berdoa kepada makhluk manusia dan sudah tentu seseorang yang didoakan malaikat mendapat keistimewaan. Dalam hidup, kita sangat memerlukan bantuan rohani dalam menghadapi ujian yang kian mencabar. Bantuan dan sokongan malaikat sangat diperlukan.Disenaraikan antara jenis manusia yang akan menerima doa malaikat. Ketika itulah sewaktu kita menghadapi masalah, kerumitan, keperluan dan bimbingan, bukan saja kita perlukan kekuatan doa dari lidah, tetapi juga sokongan malaikat.

Peringatan diri: Solat itu wajib, jangan biarkan diri di mamah usia dengan kekosongan rohani. Isikan dengan zat-zat yang berguna. Sebaik-baik rumah adalah Syurga. Sewanya dibayar dengan solat 5 waktu, puasa, zakat dan sunnah Rasulullah. Seburuk-buruk tempat adalah neraka. Hindarkanlah dengan solat 5 waktu, puasa, zakat dan sunnah Rasulullah. Kubur yang luas kerana solat 5 waktu, puasa, zakat dan sunnah Rasulullah. Kubur yang sempit kerana tidak solat 5 waktu, puasa, zakat dan sunnah Rasulullah. Lakukan sebaik mungkin yang wajib, insyaallah yang sunat pun akan berkat. Amin.

ANTARA ORANG YANG MENDAPAT DOA MALAIKAT IALAH:

1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci.

Rasulullah s.a.w bersabda, maksudnya: “Sesiapa yang tidur dalam keadaan suci, malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa: “Ya Allah, ampunilah hamba-Mu si fulan kerana tidur dalam keadaan suci.”

2. Orang yang sedang duduk menunggu waktu solat.

Rasulullah s.a.w bersabda maksudnya: “Tidaklah salah seorang antara kalian yang duduk menunggu solat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali kalangan malaikat akan mendoakannya: ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia.’”

3. Orang yang berada di saf depan solat berjemaah.

Rasulullah s.a.w bersabda, maksudnya: “Sesungguhnya Allah dan kalangan malaikat-Nya berselawat ke atas (orang) yang berada pada saf depan.”

4.    Orang yang menyambung saf pada solat berjemaah (tidak membiarkan kekosongan di dalam saf).

Rasulullah S.A.W bersabda, maksudnya: “Sesungguhnya Allah dan kalangan malaikat selalu berselawat kepada orang yang menyambung saf.”

5.    Kalangan malaikat mengucapkan ‘amin’ ketika seorang imam selesai membaca al-

Fatihah. Rasulullah s.a.w bersabda maksudnya: “Jika seorang imam membaca…(ayat terakhir al-Fatihah sehingga selesai), ucapkanlah oleh kamu ‘aamiin’ kerana sesiapa yang ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, dia akan diampuni dosanya yang lalu.”

6. Orang yang duduk di tempat solatnya selepas melakukan solat.
Rasulullah s.a.w bersabda, maksudnya: “Kalangan malaikat akan selalu berselawat kepada satu antara kalian selama ia ada di dalam tempat solat, dimana ia melakukan solat.”

7. Orang yang melakukan solat Subuh dan Asar secara berjemaah.

Rasulullah s.a.w bersabda maksudnya: “Kalangan malaikat berkumpul pada saat solat Subuh lalu malaikat (yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga Subuh) naik (ke langit) dan malaikat pada siang hari tetap tinggal.

“Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu solat Asar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga solat Asar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal lalu Allah bertanya kepada mereka: “Bagai mana kalian meninggalkan hamba-Ku?”

Mereka menjawab: ‘Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan solat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan solat, ampunilah mereka pada hari kiamat.’”

8.    Orang yang mendoakan saudaranya tanpa pengetahuan orang yang didoakan.

Rasulullah s.a.w bersabda, maksudnya: “Doa seorang Muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa pengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, malaikat itu berkata ‘aamiin dan engkau pun mendapatkan apa yang ia dapatkan.’”

**Tambahan: Juga beristighfarlah 25 kali setiap hari untuk seluruh muslimin dan muslimat.

اَسْتَغْفِرُاللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلوَالِدَيَّ وَلِأَصْحَابِ الْحُقُوْقِ عَلَيَّ

وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسلِمَاتِ وَالْمُؤمِنِينَ  وَالْمُؤمِنَاتِ ألْأَحْيَاءِ مِنْهُم  وَالاَموَاتِ

بِرَحمَتِكَ  يَاأَرحَمَ  الرَّاحِمِيْنَ

 

        9. Orang yang membelanjakan harta (infak). Rasulullah s.a.w bersabda, maksudnya: “Tidak satu hari pun di mana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali dua malaikat turun kepadanya, satu antara kedua-duanya berkata: ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak…’ “

10.Orang yang sedang makan sahur. Rasulullah s.a.w bersabda maksudnya: “Sesungguhnya Allah dan kalangan malaikat-Nya berselawat kepada orang yang sedang makan sahur.”

     11.Orang yang sedang menjenguk (melawat) orang sakit. Rasulullah s.a.w bersabda, maksudnya: “Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70,000 malaikat untuknya yang akan berselawat kepadanya di waktu siang hingga petang dan di waktu malam hingga Subuh.”

Itulah antara mereka yang mendapat doa malaikat. Wallahu’alam.

Semoga kita termasuk dan tersenarai sama. InsyaAllah.

 





MENGAPA LANTAI MARMAR KAABAH TIDAK PANAS?


Secara kebiasaannya, lantai yang terdedah kepada cahaya panas terik matahari akan mengalami suhu kepanasan yang melampau. Namun di Masjidil Haram pula tidak begitu kerana lantainya mengalami suhu yang sejuk. Mungkin ada di antara kita pernah mengujungi Masjidil Haram sama ada bagi menunaikan ibadah haji mahupun ibadah umrah. Namun bagi yang berpengalaman ke sana, mungkin tertanya-tanya mengapakah lantai di Masjidil Haram tidak panas sedangkan cuaca pada ketika itu benar-benar panas sehingga mencecah lebih 40 darjah. Melakukan tawaf (mengelilingi Kaabah) di malam dan siang hari memang berbeza. Jika malam hari, cuaca cukup sejuk. Oleh itu, orang sekitar Mekkah jika ingin melakukan umrah biasanya dilakukan pada malam hari.  Begitu juga dengan warga di sekitar Kota Makkah seperti Jeddah. Warga di bandar yang terletak sekira satu jam perjalanan dari Mekah ini, biasanya keluar pada petang hari agar boleh sembahyang Maghrib berjamaah sekaligus melakukan umrah.

“Kebiasaan orang di sini begitu. Agak pelik kalau berangkat ke Makkah untuk umrah pada pagi hari,” kata Haji Sariman Zulfakar yang berpejabat di Jeddah, , yang sudah tinggal 21 tahun di Arab Saudi. Memang suhu di Makkah belakangan ini cukup panas berkisar antara 40-42 darjah celsius. Bandingkan dengan Jakarta yang puncak panasnya berada di kisaran 37 darjah celcius. Puncak panas biasanya terjadi pada pukul 15.00 waktu setempat. Setelah itu, terus menurun hingga malam hari.  Memang keadaannya sangat jauh berbeza. Jika malam hari, melakukan tawaf tidak terlalu menguras tenaga.Berbeza halnya jika tawaf dilakukan siang hari. Keringat sudah pasti bercucuran kerana panas matahari yang menyengat. Meski demikian yang unik, meski mengelilingi Kaabah tanpa alas kaki, namun telapak tidak terasa panas sama sekali. Padahal tempat tawaf merupakan ruang terbuka, panas matahari langsung menerpa lantai marmar. Ini berberda dengan lantai di jalan hendak keluar dari pintu Marwah. Saat berjalan, telapak kaki berasa sangat panas tab berjalan di atas bara api. Kami berjinjit dan berlari kecil untuk mengelakkan panas tersebut. Lalu kenapa di lantai tempat tawaf dan di luar masjidil haram berbeza 180 darjah. Ini menimbulkan rasa ingin tahu. Salah satu ummal (cleaning service) di Masjidil Haram, Udin (40), mengatakan di bawah Kaabah dan tempat tawaf memang dipasang air conditioner agar telapak kaki peziarah tidak melepuh, kepanasan.

Setelah membaca buku Sami bin Abdullah al Maghlouthm ‘Atlas Haji dan Umrah’ dan sumber lain, barulah terungkap. Awalnya, tempat tawaf tidak berubin marmar seperti saat ini. Dulu hanyalah hamparan pasir lapang. Barulah pada masa Abdullah Ibnu Zubair. Ubinnya saat itu bergaris lima meter dari Kaabah, hingga 1375 Hijrah atau 1954 M di masa Raja Abdul Aziz sumbangan marmar terus berdatangan. Kini lantai marmar untuk tawaf terbuat dari marmar high terbaik yang mampu menahan teriknya panas matahari. Awalnya lokasi tawaf tidak seluas sekarang, terdapat bangunan di atas Maqam Ibrahim dan juga gerbang pintu masuk telaga Zamzam.

Pada masa Raja Faisal pengubahsuaian dilakukan melanjutkan tempoh Raja Saud, di antaranya adalah pembongkaran bangunan di atas Maqam Ibrahim, sehingga lokasi untuk tawaf lebih lebar dari sebelumnya.

Pada masa Raja Khalid, perluasan laman untuk tawaf kembali dikembangkan. Gerbang menuju telaga zamzam dipindahkan ke dekat serambi masjid sebelah timur. Kerana itulah area tawaf menjadi lebih luas dari 3.298 meter menjadi 8.500 meter, seluruh bahagian Masjidil Haram lama menjadi tempat tawaf.

Kemudian, pengubahsuaian dilanjutkan pada masa Raja Fahd. Dibangunlah ruangan bawah tanah. Tak hanya itu, tingkat bawah tanah juga dilengkapi dengan pengatur hawa dingin. Pusat enjin dibina di kawasan Ajyad. Air sejuk dialirkan di tingkat bawah tanah berasal dari tempat yang sama.

Jadi wajar saja, jika lantai yang digunakan untuk tempat tawaf tidak berasa panas sekalipun suhu udara sangat panas. Ini adalah bentuk perkhidmatan Kerajaan Kerajaan Arab Saudi terhadap jamaah yang setiap tahun harus meninggalkan sanak keluarga di negara mereka demi melaksanakan Rukun Islam ke-5.

note ~ Teknologi pada zaman kini telah banyak memudahkan manusia. Banyak keselesaan yang kita dapat berbanding di zaman dahulu terutama di zaman nabi yang penuh dengan kesusahan dan kesukaran dalam meneruskan kehidupan. Tetapi itu tidak menjadi masalah kepada mereka dalam soal beribadah kepada Allah SWT.



ORANG SAKIT AKAN DI DATANGI OLEH (4) MALAIKAT

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Kalau kita tahu sebenarnya tak ada alasan untuk sedih dan mengeluh saat kita sakit, kerana sebenarnya itu adalah kasih sayang Allah SWT pada kita. Kita mengeluh saat sakit kerana kita tak tahu rahasianya. Dengan info yang ringkas ini menjelaskan bahwa sakit itu harus disyukuri kerana itu adalah bukti kasih sayang Allah pada kita. Allah mengutus 4 malaikat untuk selalu menjaga kita ketika dalam keadaan sakit. Rasulullah SAW bersabda: “Apabila seorang hamba yang beriman menderita sakit, maka Allah memerintahkan kepada para malaikat agar menulis perbuatan yang terbaik yang dikerjakan hamba mukmin itu pada saat sehat dan pada saat waktu senangnya.”

Sabdaan Baginda Besar Rasulullah SAW tsb diriwayatkan oleh Abu Imamah al Bahili. Dalam hadist yang lain Rasulullah bersabda : “Apabila seorang hamba mukmin sakit, maka Allah mengutus 4 malaikat untuk datang padanya.” Allah memerintahkan :

 
 1. Malaikat pertama untuk mengambil kekuatannya sehingga menjadi lemah.

 2. Malaikat kedua untuk mengambil rasa lazatnya makanan dari mulutnya

 3. Malaikat ketiga untuk mengambil cahaya wajahnya sehingga berubahlah wajah si sakit menjadi pucat lesi.

 4. Malaikat keempat untuk mengambil semua dosanya , maka berubahlah si sakit menjadi suci dari dosa.

 Tatkala Allah akan menyembuhkan hamba mukmin itu, Allah memerintahkan kepada malaikat 1, 2 dan 3 untuk mengembalikan kekuatannya, rasa lezat, dan cahaya di wajah sang hamba. Namun untuk malaikat ke 4 , Allah tidak memerintahkan untuk mengembalikan dosa-dosanya kepada hamba mukmin. Maka bersujudlah para malaikat itu kepada Allah seraya berkata : “Ya Allah mengapa dosa-dosa ini tidak Engkau kembalikan kepadanya?”

Allah menjawab: “Tidak baik bagi kemuliaan-Ku jika Aku mengembalikan dosa-dosanya setelah Aku menyulitkan keadaan dirinya ketika sakit. Pergilah dan buanglah dosa-dosa tersebut ke dalam laut.” Dengan ini, maka kelak si sakit itu berangkat ke alam akhirat dan keluar dari dunia dalam keadaan suci dari dosa sebagaimana sabda Rasulullah SAW : “Sakit demam panas dalam sehari semalam, dapat menghilangkan dosa selama setahun.”

 
Subhanallaah … subhanallaah … !!

 
“Tiada seorang mu’min yang ditimpa oleh lelah atau penyakit, atau risau fikiran atau sedih hati, sampaipun jika terkena duri, melainkan semua penderitaan itu akan di­jadikan penebus(kifarah) dosanya oleh Allah. (HR Bukhari-Muslim)

 
“Jika sakit seorang hamba hingga tiga hari, maka keluar dari dosa-dosanya sebagaimana keadaannya ketika baru lahir dari kandungan ibunya. (HR Ath-Thabarani)

 
“Penyakit panas itu menjaga tiap mu’min dari neraka, dan panas semalam cukup dapat menebus dosa setahun.” (HR Al-Qadha’i)

 
Semuga dengan info yang  ringkas dapat membuka hijab yang mengkaburi fikiran dan jiwa kita setiap kali kita ditimpakan dengan sakit dan penyakit. Jiwa menjadi tenang dan penuh bersabar dan bersyukur.